MY DIGITAL PORTOFOLIO DAY 1
Penugasan PKKMB Universitas Nahdhatul Ulama Surabaya unusa (Resume Materi PKKMB) Hari Pertama
Materi 1
Yudi Latif, MA., Ph.D : Kehidupan Berbangsa, Bernegara, Jati Diri
Bangsa, dan Pembinaan Kesadaran Bela Negara
Sebagai mahasiswa, kita tidak cukup hanya menjadi ahli teori di atas kertas. Kita memikul tanggung jawab lebih besar: menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan hak-hak rakyat kecil, sebagaimana yang dicontohkan para pemimpin bangsa terdahulu—yang banyak berangkat dari barisan aktivis mahasiswa.
Namun, dalam menyalurkan kepedulian dan semangat juang itu, penting untuk tetap berpijak pada prinsip dan cita-cita luhur bangsa. Gerakan mahasiswa harus berjalan di jalur kebaikan negeri, selaras dengan visi dan misi kebangsaan. Kritisisme adalah kekuatan kita, tapi harus dibedakan dengan tindakan destruktif. Barbarisme—yang merusak properti publik dan mengabaikan etika perjuangan—bukanlah cerminan intelektualitas.
Disinilah ujian kecerdasan kita sebagai mahasiswa: mampu menjadi kritis tanpa kehilangan arah. Mampu bersuara lantang tanpa meruntuhkan fondasi negeri sendiri. Mahasiswa sejati adalah mereka yang bisa menjadi agen perubahan, tanpa kehilangan akal sehat dan tanggung jawab moral.
Materi 2
Erisandy Yudhistira : Penguatan literasi keuangan dan kesejahteraan mahasiswa
Satu fakta yang perlu menjadi perhatian kita bersama adalah kondisi pensiunan di Indonesia yang masih sangat rentan secara finansial. Berdasarkan data survei, sebagian besar pensiunan tidak memiliki sumber pendapatan yang mandiri dan berkelanjutan. Ironisnya, sebanyak 39,6% pensiunan di Indonesia masih bergantung secara ekonomi kepada anak atau menantunya. Ketergantungan ini menunjukkan lemahnya sistem perlindungan sosial bagi para lansia di tanah air.
Sementara itu, 38,2% lainnya masih harus bekerja atau berwirausaha di usia senja untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Ini berarti, hampir 80% pensiunan di Indonesia masih harus berjuang sendiri atau bergantung pada keluarga terdekat setelah puluhan tahun bekerja. Fenomena ini menjadi cerminan bahwa program pensiun dan jaminan hari tua di Indonesia belum sepenuhnya efektif. Banyak pekerja yang tidak memiliki tabungan pensiun yang cukup atau akses terhadap program pensiun formal.
Selain itu, literasi keuangan masyarakat kita tentang perencanaan pensiun masih tergolong rendah. Ketidaksiapan finansial ini membuat masa pensiun bukan menjadi masa istirahat, melainkan masa perjuangan kembali. Ketergantungan ekonomi pada anak justru menambah beban generasi produktif, sehingga berpotensi menciptakan tekanan ekonomi lintas generasi.
Di sisi lain, pensiunan yang masih harus bekerja di usia lanjut juga menghadapi tantangan kesehatan dan keterbatasan fisik. Hal ini bisa memperburuk kualitas hidup mereka dan meningkatkan risiko kelelahan maupun penyakit kronis. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem jaminan sosial kita masih perlu banyak perbaikan, baik dari sisi cakupan maupun efektivitas. Pemerintah dan masyarakat harus mulai menyadari pentingnya investasi jangka panjang untuk masa tua sejak usia produktif.Ketiadaan dana pensiun yang memadai bukan hanya masalah individu, tetapi juga masalah struktural dalam kebijakan ekonomi dan ketenagakerjaan. Banyak pekerja informal yang bahkan sama sekali tidak memiliki akses terhadap program pensiun formal seperti BPJS Ketenagakerjaan.
Di tengah pertumbuhan ekonomi, ketimpangan dalam perlindungan sosial ini justru memperlebar jurang kesejahteraan di usia tua. Jika tidak ada intervensi yang serius, maka generasi muda saat ini pun akan menghadapi masalah serupa di masa depan karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk membangun sistem pensiun yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan demi kesejahteraan lansia Indonesia.
Materi 3
Hafid Algristian, dr., Sp.KJ : Mahasiswa Berkarakter dengan Anti
Kekerasan Seksual, Anti Perundungan, Sehat Mental dan Perilaku Menyimpang
Mahasiswa Berkarakter: Anti Kekerasan Seksual, Anti Perundungan, Sehat Mental, dan Terhindar dari Perilaku Menyimpang
Mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa yang memiliki peran penting dalam mewujudkan lingkungan akademik yang sehat, aman, dan bermartabat. Untuk itu, karakter mahasiswa tidak hanya tercermin dari prestasi akademik, tetapi juga dari sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Anti Kekerasan Seksual
Mahasiswa berkarakter senantiasa menjunjung tinggi martabat manusia dengan menolak segala bentuk kekerasan seksual. Kesadaran ini diwujudkan melalui sikap saling menghormati, menjaga batasan, serta berani melapor dan menolak tindakan yang merugikan orang lain secara fisik maupun psikis.Anti Perundungan (Bullying)
Perundungan, baik verbal, fisik, maupun melalui media digital, merusak nilai kemanusiaan dan kebersamaan. Mahasiswa berkarakter menolak segala bentuk bullying serta berupaya menciptakan lingkungan inklusif, menghargai perbedaan, dan menumbuhkan solidaritas di antara sesama.Sehat Mental
Kesehatan mental adalah fondasi penting bagi mahasiswa dalam menempuh pendidikan. Mahasiswa berkarakter menjaga keseimbangan antara akademik, organisasi, dan kehidupan pribadi. Mereka juga terbuka untuk mencari bantuan jika mengalami tekanan, serta mendukung teman yang membutuhkan tanpa stigma.Terhindar dari Perilaku Menyimpang
Mahasiswa berkarakter menjauhi perilaku menyimpang seperti penyalahgunaan narkoba, kekerasan fisik, intoleransi, maupun pelanggaran norma sosial. Mereka memahami pentingnya menjaga diri dan lingkungan agar tetap kondusif, produktif, dan sesuai dengan nilai-nilai etika serta hukum.Kunjungi Blog teman saya : https://dhinamalakhatin1107.blogspot.com/2025/09/my-digital-portofolio-day-1.html?m=1
Media sosial unusa
Facebook : https://www.facebook.com/unusaofficialfb
Instagram : https://www.instagram.com/unusa_official/
Youtube : https://www.youtube.com/@unusa_official
Twitter(X) : https://x.com/unusa_official?lang=en
Tiktok : https://www.tiktok.com/@unusa_official

Komentar
Posting Komentar